Konseling sebagai Helping Relationship

20.08

PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Manusia adalah makluk sosial, yang artinya tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan serta selalu berhubungan dengan orang lain dalam menjalani hidupnya. Bentuk hubungan antar manusia tersebut bermacam-macam, salah satunya adalah hubungan membantu. Setiap individu pernah memberikan bantuan atau menerima bantuan, meskipun dengan cara dan maksud tertentu pemberian/penerimaan bantuan tersebut dilakukan.
Meski Brammer (1998) membedakan proses membantu ada dua, yaitu bantuan yang profesional dan yang bukan profesional, tapi dalam makalah ini, hanya akan di bahas hubungan membantu dalam bentuk profesional, yang dilakukan oleh setidak-tidaknya seorang tenaga profesional yang membantu pihak lain, dan pekerjaan tersebut dalam konteks profesi yang ditekuninya. Tenaga profesional yang dimaksud seperti perawat, psikolog, dokter, konselor, dan lain-lain. Meski pada dasarnya,  profesional atau tidaknya  hubungan membantu tersebut sangat tergantung pada konteks permasalahan yang diselesaikan dan cara penanganannya.
Dari sekian banyak hubungan membantu yang ada dan dilakukan oleh banyak orang, konseling merupakan salah satu bentuk hubungan membantu yang dilakukan oleh profesional, seperti yang telah dijelaskan di awal. Maka, melalui makalah ini, penulis akan menguraikan terlebih dahulu pengertian hubungan membantu dan langkah-langkah hubungan membantu. Dari pemahaman tentang hubungan membantu ini, semoga kita dapat menarik benang merah kaitannya dengan konseling sebagai hubungan yang membantu.

1.2  RUMUSAN MASALAH
       1.2.1    Apakah pengertian helping relationship (membantu) itu?
       1.2.2    Apa saja karakteristik dari helping relationship?
       1.2.3    Apa saja ciri-ciri helping relationship?
       1.2.4    Bagaimana pelaksanaan konseling sebagai helping relationship?

1.3  TUJUAN
       1.3.1    Untuk mengetahui pengertian dari helping relationship.
       1.3.2    Untuk mengetahui karakteristik dari helping relationship.
       1.3.3    Untuk mengetahui ciri-ciri dari helping relationship.
       1.3.4    Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan konseling sebagai helping relationship.






















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1  PENGERTIAN HELPING RELATIONSHIP
A. Terry dan Capuzzi mengartikan bahwa hubungan membantu merupakan beberapa individu bekerjasama untuk memecahkan apa yang menjadi perhatiannya atau masalahnya dan atau membantu perkembangan dan pertumbuhan salah seorang dari keduanya. (Capuzzi dan EF, 1991)
George dan Christiani (1982) mengemukakan bahwa pemberian bantuan professional merupakan proses dinamis dan unik yang dilakukan individu untuk membantu orang lain dengan menggunakan sumber-sumber dalam agar tumbuh kedalam arahan yang positif dan dapat mengaktualisasikan potensi-potensinya untuk sebuah kehidupan yang bermakna.
Rogers (1961) mengemukakan bahwa maksud hubungan tersebut adalah untuk peningkatan pertumbuhan, kematangan, fungsi, cara penanganan kehidupannya dengan memanfaatkan sumber-sumber internal pada pihak yang diberikan bantuan.

2.2  KARAKTERISTIK HELPING RELATIONSHIP
George dan christiani mengemukakan enam karakteristuk dinamika dan keunikan hubungan konseling dibandingkan dengan hubungan membantu yang lainnya. Keenam karakteristik itu adalah:
a.     Afeksi
Hubungan konseling dengan klien pada dasarnya lebih sebagai hubungan afektif daripada sebagai hubungan kognitif. Hubungan afeksi akan tercermin sepanjang proses konseling, termasuk dalam melakukan eksplorasi terhadap persepsi dan perasaan-perasaan subjektif klien. Hubungan yang penuh afeksi ini dapat mengurangi rasa kecemasan dan ketakutan pada klien, dan diharapkan hubungan konselor dank lien lebih produktif.
b.    Intensitas
Hubungan konseling dilakukan secara intensitas. Hubungan konselor dank lien yang intens ini diharapkan dapat saling terbuka terhadap persepsinya masing-masing. Tanpa adanya hubungan yang intens hubungan konseling tidak akan mencapai pada tingkatan yang diharapkan. Konselor biasanya mengupayakan agar hubungannya dengan klien dapat berlangsung secara mendalam sejalan dengan perjalanan hubungan konseling.
c.     Pertumbuhan dan Perubahan
Hubungan konsleing bersifat dinamis. Hubungan konseling terus berkembang sebagaimana perubahan san pertumbuhan yang terjadi pada konselor dank klien. Hubungan tersebut dikatakan dinamis jika dari waktu kewaktu terus terjadi peningkatan hubungan konselor klien,pengalaman bagi klien, dan tanggungjawabnya. Dengan demikian pada klien terjadi pengalaman belajar untuk memahami dirinya sekaligus bertanggungjawab untuk mengembangkan dirinya.
d.    Privasi
Pada prinsipnya dalam hubungan konseling perlu adanya keterbukaan klien. Keterbukaan klien tersebut bersifat konfidensial, konselor harus menjaga kerahasiaan seluruh informasi tentang klien dan tidak dibenarkan mengemukakan secara transparan kepada siapapun tanpa seizing klien. Perlindungan atau jaminan hubungan ini adalah unik dan akan meningkatkan kemauan klien membuka diri.
e.     Dorongan
Konselor dalam hubungan konseling memberikan dorongan (supportive) kepada klien untuk meningkatkan kemampuan dirinya dan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Dalam hubungan konseling, konselor juga perlu memberikan dorongan atas keinginannya untuk perubahan perilaku dan memperbaiki keadaannya sendiri sekaligus memberi motivasi untuk berani mengambil resiko dari kepurtusannya.
f.       KejujuranHubungan konseling didasarkan atas saling kejujuran dan keterbukaan, serta adanya komunikasi terarah antara  konselor dengan kliennya. Dalam hubungan ini tidak ada sandiwara dengan jalan menutupi kelemahannya, atau menyatakan yang bukan sejatinya. Klien maupun konselor harus membangun hubungannya secara jujur dan terbuka. Kejujuran menjadi prasayarat bagi keberhasilan konseling
2.3  CIRI-CIRI HELPING RELATIONSHIP
1.      Hubungan helping adalah penuh makna, dan bermanfaat.
2.      Afeksi sangat mencolok dalam hubungan helping.
3.      Keutuhan pribadi tampil atau terjadi dalam hubungan helping.
4.      Hubungan helping terbentuk melalui kesepakatan bersama individu-individu yang terlibat.
5.      Saling-Hubungan yang terjalin karena individu yang hendak dibantu membutuhkan informasi, pelajaran, advis, bantuan, pemahaman dan perawatan dari orang lain.
6.      Hubungan helping dilangsungkan melalui komunikasi dan interaksi.
7.      Struktur hubungan helping jelas atau gamblang.
8.      Upaya-upaya yang bersifat kerjasama menandai hubungan helping.
9.      Orang-orang dalam helping dapat dengan mudah ditemui atau didekati dan terjamin ajeg sebagai pribadi.
10.  Perubahan merupakan tujuan hubungan helping.

2.4  PELAKSANAAN HELPING RELATIONSHIP
Kemampuan melaksanakan hubungan konseling sebaiknya tidak hanya dimiliki oleh seorang konselor saja, namun semua pengajar termasuk di dalamnya guru mata pelajaran dan wali kelas seharusnya menguasai kemampuan melaksanakan hubungan konseling ini. Ketrampilan pelaksanaan hubungan konseling diperlukan bagi guru mata pelajaran untuk mengatasi masalah kesulitan belajar. Pemecahan masalah kesulitan belajar akan berjalan efektif jika guru mata pelajaran yang bersangkutanlah yang menyelesaikannya. Hal ini dimaksudkan agar guru mata pelajaran dapat bekerja secara terarah, efektif, dan efisien. Setiap mata pelajaran tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Mulai dari bahan ajar, metode, tingkat kesukaran, kompetensi yang harus dicapai serta hal-hal mendasar lainnya yang berhubungan dengan kurikulum sebuah mata pelajaran. Hal ini tentu disikapi secara berbeda-beda oleh subyek didik. Dalam kondisi inilah tercipta sebuah interaksi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Dan ketika interaksi itu tercipta maka di sanalah seharusnya tercipta hubungan yang saling menguntungkan. Simbiosis mutualisma.
                   Simbiosis mutualisma yang dimaksud dalam konteks ini adalah hubungan yang terjalin secara menguntungkan bagi subyek didik dan menguntungkan pula bagi pendidiknya. Ketika pendidik dengan penuh semangat menyampaikan uraian materi pelajaran, akan sangat diuntungkan jika subyek didik yang dihadapi memberikan tanggapan dengan sebaik-baiknya. Bila tolak ukurnya adalah tingkat ketuntasan, maka tanggapan terbaik siswa atas materi pelajaran yang diterimanya adalah menunjukan angka prosentase 100%. Tetapi, bagaimanakah jika kenyataan di lapangan menunjukan hal yang sebaliknya?
                                 Secara umum, bimbingan konseling bertujuan untuk memberi bantuan kepada individu untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan mengptimalkan kemampuan yang dimiliki oleh seorang individu. Hubungan konseling tidak hanya dilakukan oleh seorang konselor dan guru saja, namun masih ada beberapa bidang atau profesi yang melakukan hubungan konseling, bidang tersebut adalah sebagai berikut: dunia kedokteran atau kesehatan, perusahaan dan industri, serta bidang pendidikan. Pada umumnya, bidang pendidikan selalu berintikan pada kegiatan bimbingan. Bimbingan dilaksanakan agar anak didik menjadi kreatif, produktif, dan mandiri. Dengan kata lain, pendidikan berupaya untuk mengembangkan individu anak. Hal-hal yang termasuk ke dalam perkembangan individu anak meliputi segala aspek dalam diri anak, yakni: intelektual, moral, sosial, kognitif, dan emosional. Dan kegiatan bimbingan dan konseling adalah suatu upaya untuk membantu perkembangan aspek-aspek tersebut menjadi optimal, harmonis, dan sewajarnya. Selanjutnya diharapkan tercipta sebuah relasi, yakni relasi pendidikan antara pendidik dan subyek didik. Relasi pendidikan antara pendidik dan subyek didik merupakan hubungan yang membantu karena selalu diupayakan agar ada motivasi pendidik untuk mengembangkan potensi anak didik dan membantu subyek didik memecahkan masalahnya.
                               Masalah yang dihadapi anak didik, hubungannya dengan mata pelajaran atau bidang studi adalah meliputi hal-hal sebagai berikut: tidak menyukai mata pelajaran tertentu, tidak menyukai guru tertentu, sulit memahami materi yang diajarkan, kurangnya konsentrasi pada waktu belajar, lingkungan kelas yang kurang mendukung, anggota kelompok yang tidak kooperatif dan sebagainya. Tentu saja hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Harus dicari sebuah upaya untuk menanggulanginya. Dengan melaksanakan bimbingan konseling inilah upaya-upaya memecahkan masalah yang dihadapi siswa dapat dilakukan.
                               Arthur J. Jones (1970) mengatakan bahwa bimbingan dapat diartikan sebagai “ the help given by one person to another in making choices and adjustment and in solving problems”. Pemberian bantuan kepada seseorang dalam memecahkan masalah-masalahnya. Sebuah pernyataan yang sangat sederhana tetapi sarat dengan makna. Ada dua unsur yang terlibat secara langsung dalam proses bimbingan tersebut, yaitu pembimbing (pendidik) dan terbimbing (subyek didik).
                               Sebagai langkah awal dalam kegiatan helping relationship adalah memahami klien. Klien adalah semua individu yang diberi bantuan secara profesional oleh seorang konselor (pembimbing) baik atas permintaan dirinya sendiri ataupun pihak lain. Hubungannya dengan yang sering kita temukan di lapangan adalah klien yang kita hadapi klien yang diberi bantuan bukan atas dasar permintaannya sendiri, melaikan atas permintaan orang lain terutama kita sebagai pengajar mata pelajaran yang bersangkutan.
                               Oleh sebab itu, kita sebagai guru mata pelajaran, harus memiliki keterampilan tertentu agar proses konseling berjalan secara kondusif, produktif, kreatif dan menunjukan hasil yang baik. Dengan kata lain proses konseling berjalan dengan sukses. Menurut Shertzer and Stone (1987) mengemukakan bahwa keberhasilan dan kegagalan proses konseling ditentukan oleh tiga hal, yakni: kepribadian klien, harapan klien, dan pengalaman/pendidikan klien.
                               Kepribadian klien sangat berperan penting untuk menentukan keberhasilan proses konseling. Aspek-aspek kepribadian klien seperti: sikap, emosi, intelektual, dan motivasi perlu mendapatkan perhatian dengan sebaik-baiknya. Seorang klien yang cemas ketika sedang berhadapan dengan konselor akan terlihat dari prilakunya. Seorang konselor yang baik tentu harus berusaha menentramkan kecemasan kliennya dengan berbagai cara. Dalam istilah konseling dikenal dengan sebutan teknik attending yaitu keterampilan menghampiri, menyapa, dan membuat klien betah dan mau berbicara dengan konselor. Ataupun bisa dengan cara mengungkapkan perasaan-perasaan cemas kliennya semaksimal mungkin dengan cara menggali atau mengeksplorasi, sehingga keluar dengan leluasa bahkan mungkin sampai klien tersebut mengeluarkan air mata, sehingga klien dapat mencurahkan semua permasalahan yang dihadapinya kepada konselor.
                               Harapan klien. Dapat diartikan sebagai adanya kebutuhan yang ingin terpenuhi melalui proses konseling. Pada umumnya, harapan klien terhadap proses konseling adalah untuk memperoleh informasi, menurunkan kecemasan, memperoleh jawaban dan mencari solusi dari persoalan yang sedang dialami serta mendapatkan petunjuk dan arahan bgaimana dirinya menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Sebagai konselor yang baik, tentu kita harus pandai dan terampil mengarahkan dan memupuk harapan terbimbing (subyek didik) ke arah yang lebih realistis. Bahwa dengan melakukan bimbingan diharapkan dapat menjadi jalan merubah dirinya ke arah yang lebih baik.
                               Pengalaman dan pendidikan klien. Pengalaman dan pendidikan klien merupakan faktor yang turut menentukan keberhasilan proses konseling. Dengan pengalaman dan pendidikan tersebut, klien akan lebih mudah menggali dirinya sehingga persoalannya makin jelas dan upaya pemecahannya makin terarah. Pengalaman klien dalam kegiatan konseling bisa digali melalui kegiatan berkomunikasi, seperti wawancara dan berdiskusi sehingga klien secara terbuka mau menceritakan semua permasalahan yang dihadapinya.
                               Dengan demikian konselor akan dapat terbantu dalam merumuskan dan menentukan langkah selanjutnya yang diperlukan oleh klien untuk menunjang keberhasilan proses konseling. Dari ketiga hal yang telah diuraikan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa tahap-tahap konseling dapat dilakukan seperti di bawah ini:
·         Tahap awal. Meliputi kegiatan attending (keterampilan menghampiri, menyapa, dan membuat klien betah dan mau berbicara dengan konselor), empati primer dan advance ( berempati terhadap masalah yang dihadapi klien), refleksi perasaan ( upaya untuk menangkap perasaan, pikiran, dan pengalaman klien kemudian merefleksikannya kembali pada klien), eksplorasi perasaan, pengalaman dan ide, menangkap ide-ide/pesan-pesan utama, bertanya terbuka, mendefinisikan masalah bersama klien, dorongan minimal (minimal encouragement).
·         Tahap pertengahan. Teknik yang dibutuhkan pada tahap ini adalah: memimpin (leading), memfokuskan (focusing), mendorong (supporting), menginformasikan (informing), memberi nasehat (advising), menyimpulkan sementara (summarizing), dan bertanya terbuka (open question).
·         Tahap ahir. Tahap ini disebut tahap konseling (action). Teknik yang dapat digunakan pada tahap ini adalah: menyimpulkan, memimpin, merencanakan, mengevaluasi dan mengakhiri proses konseling.






BAB 3
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa konseling sebagai hubungan yang bersifat  helping relation adalah suatu hubungan yang terjalin karena adanya kesepakatan antara  konselor dengan konseli. Konseli  yang dihadapi adalah konseli yang sedang mengalami suatu masalah, selain membantu konseli dalam mengentaskan masalahnya, konselor juga membantu konseli dalam mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada pada diri konseli.

3.1  SARAN
Masalah yang kita hadapi dapat terselesaikan dengan bantuan orang-orang di sekeliling kita. Maka dari itu jalinlah hubungan yang baik dengan orang-orang disekitar kita.















DAFTAR PUSTAKA
       Gunarsa, Singgih, D. 2004. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia
       Latipun. 2006. Psikologi Konseling Edisi ke-3. Malang: UMM Press
       AT, Andi Mappiare. 2006. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
       Sugiharto & Mulawarman. 2007. Buku Ajar Psikologi Konseling. Semarang: Unnes Press



You Might Also Like

0 komentar

SUBSCRIBE

Like us on Facebook